Tampilkan postingan dengan label learning. Tampilkan semua postingan

Dimas Diajeng Sleman 2016



Sekitar setahun yang lalu, Ikatan Dimas Diajeng Sleman membuka pendaftaran Pemilihan Dimas Diajeng Sleman 2016. Pemilihan ini diadakan tiap dua tahun sekali. Tujuan utama pemilihan Dimas Diajeng Sleman bukan hanya menjadi duta wisata saja melainkan sebagai "paket komplit" yang tidak hanya terfokus pada pariwisata tetapi juga pada budaya, pendidikan, serta menjadi role model bagi generasi muda. Persyaratannya tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, seperti Warga Negara Indonesia (WNI) dan melampirkan KTP, sehat jasmani dan rohani, berusia 17-25 tahun, belum menikah, lulus SMA/SMK/Sederajat, berat dan tinggi badan proporsional (Dimas minimal 165cm, Diajeng minimal 160cm), berkepribadian menarik, berprestasi, dinamis, kreatif, komunikatif, menguasai bahasa asing (minimal Bahasa Inggris), belum pernah menjuarai pemilihan Duta Wisata serupa di daerah lain. Sedangkan persyaratan administrasi yang harus dipenuhi antara lain pas foto berwarna ukuran 4x6 sebanyak dua lembar, foto close up dan full body dengan background putih ukuran 4R dengan dresscode office look, fotokopi KTP dan KTM, fotokopi ijazah SMA/SMK/sederajat, fotokopi sertifikat kejuaraan bila ada, daftar riwayat hidup atau CV terbaru, dan mengisi formulir pendaftaran yang telah disediakan.

Tahap-tahap pemilihan yaitu:
1. Seleksi Tertulis
Seleksi ini bertujuan menguji pengetahuan peserta mengenai pariwisata, kebudayaan Yogyakarta, dan pengetahuan umum.

2. Seleksi Wawancara
Dari semua peserta yang mengikuti seleksi tertulis tersebut, dipilih 60 besar (30 semifinalis Dimas, 30 semifinalis Diajeng) yang harus mengikuti tes tahap selanjutnya yaitu seleksi wawancara. Terdapat beberapa pos penjurian antara lain pos kebudayaan, pos bahasa asing, pos public speaking, pos psikologi, pos pariwisata, dan pos minat bakat. Masing-masing pos diisi oleh juri-juri yang sudah pengalaman di bidangnya masing-masing. 

3. Tes Narkotika dan Obat-Obatan Terlarang oleh BNN Sleman
Hal baru dalam rangkaian seleksi Dimas Diajeng Sleman tahun 2016 yaitu tes narkotika dan obat-obatan terlarang, tujuannya agar finalis Dimas Diajeng terpilih nantinya benar-benar dapat menjadi role model generasi muda untuk tidak menggunakan narkotika dan obat-obat terlarang.

4. Sugeng Rawuh Party
Sugeng Rawuh Party kali ini diadakan di Ndoro Ajoe Resto, acara intinya adalah pengumuman 30 finalis Dimas Diajeng Sleman terpilih (15 finalis Dimas dan 15 finalis Diajeng). Setelah acara selesai, ketigapuluh finalis dipasangkan berdasar tinggi badan dan diberi pengarahan mengenai apa saja yang harus mulai disiapkan untuk rangkaian panjang proses pembekalan sampai grand final.

Pembekalan Finalis Dimas Diajeng Sleman ini memakan waktu kurang lebih satu hingga satu setengah bulan. Biasanya dilaksanakan setiap weekend agar semua peserta bisa hadir. Materi yang diberikan beragam, mulai dari pengembangan karakter, organisasi dan birokrasi di Sleman, keprotokolan, kepemimpinan dan kepemudaan, public speaking, dll. Selain itu finalis Dimas Diajeng Sleman 2016 juga diberi beberapa tugas seperti meneruskan acara tahunan Dimas Diajeng Sleman yang bernama Culturism, berfoto di objek-objek wisata Sleman, dan membuat paper. Masa-masa pembekalan ini adalah masa yang paling menguras emosi dan bikin capek karena selain kegiatan yang sudah saya sebut di atas, ada lagi satu kegiatan yang dilaksanakan hampir tiap hari, mulai dari sore sampai malam hari. Latihan opening dance! Opening dance-nya Dimas Diajeng Sleman memang terkenal unik dari tahun ke tahun. Untuk tahun ini, opening dance nya banyak gerakan-gerakan njunjung, nggendhong, atau angkat teman sendiri. Bahkan ada beberapa part yang para wanita harus bisa angkat teman wanitanya sendiri. Opening dance ini juga menjadi kenangan sendiri buat saya karena saya harus dua kali bolak-balik pesan 30 payung hitam untuk properti menari :))

Karantina Pemilihan Dimas Diajeng Sleman 2016 dilaksanakan di Hotel UNY selama 4 hari 3 malam. Hari pertama sampai ketiga diisi dengan pemberian materi, sedangkan malam harinya digunakan untuk latihan opening dance. Pada malam ketiga atau malam terakhir karantina, diadakan malam unjuk bakat sekaligus gala dinner untuk para duta wisata daerah lain yang telah hadir untuk grand final esok hari. Grand final diselenggarakan di Auditorium Universitas Sanata Dharma, sejak pagi kami sudah ada di sana untuk serangkaian gladi bersih yang dilanjutkan dengan make up, memakai sanggul, dan persiapan lainnya. Semua kegiatan Dimas Diajeng Sleman dapat diakses melalui media sosial kami: Instagram @dimjengsleman dan Facebook Dimas Diajeng Sleman. 

ORAK-ARIK MAKARONI TELUR


Mumpung hari Minggu dan punya waktu senggang, saya kepikiran untuk coba-coba memasak lagi. Cooking experiment kali ini saya ingin memasak orak-arik makaroni telur, resepnya saya dapatkan di sini. Bahan-bahannya sangat mudah di dapat kok, antara lain:
-makaroni 50 gram
-telur 1 butir
-bawang bombay yang diiris cincang kecil-kecil
-garam
-lada atau merica bubuk
-blueband 2 sendok makan

Cara memasak:
1. rebus makaroni sampai matang (kata ibu ciri makaroni yang sudah matang yaitu bentuknya menjadi lebih besar dan mengembang), tiriskan
2. masukkan blueband dan telur lalu diaduk-aduk, setelah itu masukkan bawang bombay cincang
3. masukkan makaroni dan tambahkan garam serta lada/merica bubuk secukupnya

Adik saya paling semangat kalau disuruh mencicipi masakan saya, entah enak ataupun tidak :D Untungnya masakan saya kali ini tidak mendapat kritikan dari ibu maupun adik. Dan lagi-lagi adik menghabiskan  masakan saya, hihi. Senang!

Happy cooking! ^^


[Buku] TRAVEL YOUNG


 
Be Courageous  * Take Risks * Speak Out
Make Choices * Grow up * Enjoy Your Life

 

“Aku takut ketinggian,” tandas saya singkat. Mendengar hal itu, teman yang duduk di sebelah saya menawarkan untuk bertukar tempat, tapi saya menolak.
Bagaimana saya bisa pergi keliling dunia kalau bepergian dengan pesawat saja, membuat saya ketakutan setengah mati?
Segera, pesawat pun perlahan-lahan melewati landas pacu, sedikit menukik ke atas, dan… I swear it was the scariest moments in my life!
# # #
Menjejaki kedewasaan ibarat melakukan sebuah perjalanan. Semakin jauh melangkah, akan sering kita temukan tantangan baru. Dan melakukan perjalanan sejak dini berarti menemukan banyak pelajaran yang akan menempa diri kita menjadi sosok yang lebih dewasa.
Alanda Kariza berbagi kisah perjalanan yang mendewasakan dirinya saat ke New York, Vatikan, London, Doha, Pittsburgh, dan tempat menarik lainnya. Banyak hal yang bisa jadi pelajaran menarik, seperti keluar dari zona nyaman, berani mengambil keputusan, percaya diri, dan bisa menyikapi suatu masalah tanpa keluhan.
Baginya, traveling is about discovering yourself and also your flaws. Jadi, siapkan destinasi impianmu, tangkap setiap momen yang ada…dan bertualanglah! Temukan jawaban tentang kedewasaanmu.


Judul                            : Travel Young
Penulis                         : Alanda Kariza
Penerbit                       : GagasMedia
Desainer Sampul          : Dwi Anisa Anindhika
Tebal                           : 190 halaman
ISBN                            : 979-780-777-0
Cetakan Pertama          : 2014
Harga                           : Rp 40.000, 00
   
Melakukan perjalanan bukan hal yang asing lagi dalam hidup kita. Jauh-dekat. Lama-singkat. Dalam kota-antar kota. Antar daerah-antar provinsi. Dalam negeri-luar negeri. Sendirian-bersama pasangan-maupun beramai-ramai. Semua tentu memiliki ceritanya tersendiri. Dalam buku ini Alanda Kariza berkisah mengenai perjalanan yang ia lalui ke berbagai negara, bagaimana dirinya berusaha untuk dewasa, percaya dan bisa mengandalkan diri sendiri, serta berpikir positif. Alanda juga menyisipkan kisah anak-anak Indonesia yang sudah meraih sukses di usia muda. Bagi saya, apa yang ia tulis bukan sekedar berbicara tentang bagaimana suatu perjalanan dapat mendewasakan diri seseorang tetapi juga mengingatkan kita untuk selalu bersyukur. Bersyukur dengan apa yang kita miliki, bersyukur dengan kemampuan kita, bersyukur untuk orang-orang yang ditemui saat melakukan perjalanan, bersyukur untuk setiap waktu dan setiap hal baru yang ditemui, bersyukur untuk berbagai keindahan yang dapat dinikmati. Bagian favorit saya yaitu cerita saat Alanda menghadiri suatu pertemuan di Vatikan. Ketika itu semua orang yang hadir tiba-tiba serempak tertawa saat dirinya berpidato. Apa yang ia lakukan? Ikut tertawa! Ia tetap mencoba berpikir positif dan menghilangkan rasa cemasnya. Ia menganggap berani ikut menertawakan diri sendiri merupakan salah satu kualitas untuk menjadi dewasa. Bagian favorit saya yang lain yaitu saat Alanda bertemu pasangan kakek-nenek di Colline du Château, Nice. Kadang orang asing yang kita temui dimanapun membawa kisah dan pelajaran tersendiri untuk kita. Kelebihan lain yang saya suka di buku ini yaitu Alanda menuliskannya dengan bahasa baku yang baik namun tetap ringan dibaca.

“Find the courage to fight for your dreams”- Alanda Kariza.

Love Me or Love Me Not



Dear lovely bloggy..it's my first post in August..yeaaay ;)
saya mau sedikit share tentang relationship thingy yang tiba-tiba mengganggu pikiran saya dini hari yang dingin seperti ini :o Eitts.. ini bukan sesi curhat, ehm, jadi pemeran utamanya belum tentu saya ya :p Bukan hal yang terlalu serius tetapi perlu diperhatikan agar tidak menjadi masalah serius :) 
Baik kita mulai dengan pertanyaan: 
Apakah Anda memiliki akun media sosial? Pernahkah kekasih Anda cemburu pada siapapun-teman-Anda di media sosial itu? Apakah salah untuk cemburu? Bukankah cemburu katanya tanda cinta? ah, pertanyaan terakhir memang konyol, lupakan.
Tetapi menurut saya, seseorang yang memiliki hubungan harus saling menjaga perasaan pasangannya terlebih di ranah media sosial, dimana segala sesuatu dapat menjadi hal yang sangat sensitif. Tidak ada yang salah dari rasa cemburu, hanya bagaimana kita mengontrolnya agar tidak berlebihan dan tidak membuat muak pasangan. Lagi pula tidak semua teman di media sosial dapat dikenalkan pada pasangan bukan? Entah teman sekolah, teman kuliah, teman satu gereja, atau teman kantor :) Tulisan dan bahasa yang digunakan dalam media sosial juga sering memiliki persepsi yang berbeda tiap orang yang membacanya. Makanya penting untuk menjaga kepercayaan. Selama masa menjalin hubungan pasti satu sama lain juga sudah mengenal karakter pasangannya, hal apa yang membuatnya tertawa bahagia, hal yang tidak ia suka, dll. Namun adalah salah jika Anda "bersekongkol" dengan teman agar tidak menunjukkan sesuatu-apapun itu di media sosial sehingga pasangan tidak tahu, tidak cemburu, dan tidak menimbulkan masalah atau pertengkaran. Memang hal itu bisa digunakan untuk mencari amannya saja, tetapi sadar atau tidak, Anda membuat pasangan menjadi jelek dimata teman anda. You degrading her/him. Daripada tidak jujur seperti itu, tinggal beri pilihan saja: love me or love me not. Bagi saya, muak untuk membayangkan terus-terusan hidup dalam kebohongan dan "persekongkolan" seperti itu :)


good night good morning,
@elizabeth9race J

Love Conquers Anger



hiyaaak..long time no see bussy bloggy!! kali ini saya mau membagi cerita yang mungkin "biasa saja", tetapi sangat "ngena" buat saya.
this is a true story between me and my little sister.

Setiap malam sebelum tidur, saya dan adik mempunyai kebiasaan yang tidak pernah lupa dilakukan bahkan sudah menjadi ritual khusus pengantar tidur bagi kami yaitu saling mencium pipi dan mengucapkan "i love you". Sayangnya karena sempat marahan dan sama-sama gengsi untuk minta maaf, kami tidak berbicara satu sama lain sampai waktu menjelang ia tidur. Saya kira ia akan masuk kamar dan tidur begitu saja, namun ternyata saya salah. Saya menerima smsnya yang berbunyi: "dada kak. i love you :* aku mau tidur "
Ahh, manis bukan?
Malu rasanya mengingat saya---sebagai kakak---tidak mencoba meminta maaf terlebih dahulu, padahal yang kami ributkan juga termasuk masalah sepele. Duh!
Saya yakin cinta dapat mengalahkan kemarahan, seperti yang dilakukan adik saya, ia mengalahkan egonya untuk tetap menunjukkan kasihnya pada saya. Kakaknya. Kali ini saya harus benar-benar belajar darinya :)

Ada satu quotes dari Gautama Buddha yang saya dapat dari sini :
"Conquer anger by love, evil by good; conquer the miser with liberality, and the liar with truth."


                                                                                                                                      a proud sister,
Beth

[Buku]: Pondok Baca Kembali ke Semarang Oleh Nh. Dini

Tahun 1980 Dini kembali ke Tanah Air.
Setelah beberapa tahun mondar-mandir antara Jakarta dan Semarang, pada tahun 1985 Dini menetap di kota asalnya, pulang ke Kampung Sekayu. Di sana dia mendirikan taman bacaan yang dinamakan Pondok Baca Nh. Dini atau disingkat PB, dilayankan kepada para pra-remaja dan remaja sekitar. Berkat bantuan teman-teman dan saudara-saudaranya, usaha nirlaba tersebut berjalan lancar. Di sela-sela mengawasi anggota PB yang membaca dan mengerjakan Latihan-Latihan Bahasa, Dini meneruskan kegiatannya menulis novel dan cerita pendek.Namun kehidupan tidak semulus yang dia harapkan. Banjir dan tanah longsor sempat nyaris mematahkan semangat hidupnya. Gangguan bencana alam tersebut memaksa Dini pindah tempat tinggal hingga 3 kali: dari Kampung Sekayu ke Griya Pandana Merdeka di Ngalian, lalu mengungsi kembali ke Sekayu, kemudian ke Perumahan Beringin Indah di Ngalian juga. Dia mampu menyandang pengalaman tersebut sebagian besar berkat bantuan Kedutaan Besar Selandia Baru dan lingkungan dekatnya, ialah saudara-saudaranya dan para anggota Rotary Club Semarang Kunthi. Dini menjadi anggota perkumpulan bergengsi itu sejak masa tinggalnya di Kampung Sekayu.Berkat kegiatannya sebagai pengelola Pondok Baca, Dini dihubungi oleh Plan International, sebuah organisasi yang mengatur perkenalan antara pasangan suami-istri di seluruh dunia dan dan anak asuh di negara-negara yang sedang berkembang. Plan International di Kupang Timur menawarkan kerja sama kepada Dini.Semua tampak nyaman, segalanya terasa seakan-akan berlangsung damai seterusnya. Namun selalu terjadi perubahan-perubahan dalam kehidupan manusia.Menjelang tahun 1998, Dini juga terkena imbas perubahan itu. Era yang disebut Reformasi melanda diri dan lingkungannya ....


Judul                     : Pondok Baca Kembali ke Semarang
Penulis                  : Nh. Dini
Penerbit                : PT Gramedia Pustaka Utama
Desain Sampul      : Mulyono
Perwajahan Isi      : Sukoco
Tebal                    : 256
ISBN                   : 978-979-22-6635-1
Cetakan Pertama  : Februari 2011
Harga                   : Rp 45.000, 00

Seperti buku Seri Cerita Kenangan lain yang sudah terlebih dahulu ditulisnya, kali ini Bu Dini menceritakan tentang kehidupannya sekembalinya dari luar negeri. Setelah pulang dari Prancis, Bu Dini memapankan dirinya untuk kembali tinggal di rumah peninggalan orangtuanya di Kampung Sekayu. Bu Dini menempati bagian belakang rumah itu yang sebelumnya telah direnovasi menurut keinginan beliau. Dari situlah juga awal mula Pondok Baca berdiri. Namun karena beberapa hal yang membuatnya tak lagi nyaman tinggal disitu, beliau memutuskan pindah dan membangun rumah di Griya Pandana Merdeka dengan membawa serta Pondok Bacanya. Bu Dini kembali merasa nyaman dan senang tinggal di rumah barunya itu, apalagi pemandangan Laut Jawa juga tersuguh langsung dari rumahnya. Berbagai kegiatan selain menulis tetap beliau jalankan, salah satunya bergabung bersama Rotary Club Semarang Kunthi dan mengisi acara-acara sebagai pembicara. Cobaan seakan belum berhenti menguntit beliau. Cuaca buruk di Semarang mengakibatkan tanah longsor dan banjir, rumah yang ditinggali Bu Dini pun menjadi salah satu korbannya. Untungnya masih banyak barang yang dapat diselamatkan, dan untuk sementara beliau tinggal kembali di Kampung Sekayu. Dengan berbagai kemurahan hati para sahabat dan relasi, Bu Dini dapat membangun rumah dan Pondok Baca lagi di tempat yang berbeda yaitu di Beringin Indah. Perjumpaannya dengan anak-anaknya, Lintang dan Padang, semakin membuat kekayaan batinnya menumpuk. Era reformasi juga berimbas pada kondisi keuangannya namun beliau tetap dapat bertahan hidup, bahkan mampu menampung beberapa mahasiswa yang kesulitan pulang ke daerah asalnya karena keganasan dan kekacauan situasi saat itu. Setiap kisah hidup beliau mempunyai makna dan pelajaran tersendiri bagi saya. Saya mengenal karya-karya Nh. Dini semenjak duduk di bangku SMP. Dari situlah saya menjadi salah satu penggemar berat beliau. Ada satu keinginan untuk bertemu langsung dengan beliau, dan semoga impian itu dapat segera terwujud ;)
Ohya, beberapa kesalahan ketik juga saya temukan, diataranya: 

Hlm. 9: Ketka aku masih tinggal… seharusnya Ketika aku masih tinggal…

Hlm. 131: Baca seri cerita kenangan: Langit dan Buni Sahabat Kami seharusnya Langit dan Bumi Sahabat Kami

Hlm. 141: …tempat anakkku tinggal.. seharusnya ...tempat anakku tinggal...

Hlm. 249: …membeli sebanyak mungkin. buah-buah lerak yang bisa dia temukan. seharusnya …membeli sebanyak mungkin buah-buah lerak yang bisa dia temukan.

littlewords #2

Quote hari ini akan saya kutip dari salah satu buku favorit saya yaitu Lupakan Palermo, a novel by Gama Harjono dan Adhitya Pattisahusiwa.

"Life's hardly fair so you gotta treat people right." 

 night!

Jogja Fashion Week 2013

Hello! 
Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 7 Juli 2013, ada pawai Jogja Fashion Week di sepanjang Jalan Malioboro. Kebetulan saya nonton di depan toko busana muslim yang terkenal itu ;) Diurutan terdepan ada marching band dari UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) lalu disusul macam-macam kreasi busana. Bahan-bahan yang digunakan juga unik seperti rotan, koran, plastik, kain-kain perca, dsb. Peserta pawai ternyata tidak hanya dari Jogja saja, saya sempat melihat kelompok-kelompok dari luar daerah seperti Solo. Pawai dimulai sekitar pukul 14.30, mundur setengah jam dari jadwal. Beberapa jepretan amatir saya:



Mbak cantik ini hiasan sanggulnya seperti ekor burung Cendrawasih, ya!


Yang satu ini patut dihargai, lho. Dia berjalan menggunakan enggrang tetapi tidak hanya kakinya saja, tangannya pun juga. Sehingga ia seperti merangkak sepanjang jalan. Sempat juga saya mendengar pertanyaan mas ini, "Isih adoh ora Pak?" atau artinya "Masih jauh nggak Pak?". Ah terbayang betapa pegalnya!


Bahkan ada juga ibu hamil yang mungkin ngidam berfoto bersama model cantik. Mungkin biar anaknya ketularan cantik atau ganteng ya..hihi


Ada beberapa kostum yang saya suka karena kerapian dan desain yang apik. Ditunjang dengan model-model yang pas pula. 




Dari kemeriahan pawai Jogja Fashion Week kemarin, hal yang saya tidak suka yaitu jarak yang jauh antara satu kelompok dengan kelompok lain sehingga setelah selesai menyaksikan pertunjukan satu kelompok, perlu waktu beberapa lama untuk dapat menikmati kelompok selanjutnya. Hal itu membuat kesan tidak rapi dan penonton yang tidak sabaran menjadi bergerak ke utara untuk "jemput bola" alias mendekat ke kelompok pertunjukan selanjutnya meski jaraknya masih jauh. But overall, i enjoyed it :)


Grebeg, The Cultural Parade.

Yogyakarta terkenal dengan kebudayaannya yang masih terjaga hingga kini, salah satunya Grebeg. Sebelum Grebeg dimulai biasanya ada iring-iringan prajurit keraton yang memakai pakaian khas lengkap, senjata, bendera-bendera, dan memainkan alat musik tradisional sambil berjalan dengan rute yang sama setiap tahunnya. Ibu selalu mengajak kami (saya dan adik) menonton parade budaya tersebut. Pagi-pagi kami sudah mengambil tempat yang pas di pinggir jalan agar dapat melihat prajurit keraton dengan jelas. Ibu bahkan sudah menyiapkan bekal yang akan dibawa karena kami tidak sempat sarapan. Tak berapa lama kemudian mulai banyak orang yang berdatangan untuk menonton juga, hal itu menunjukkan antusiasme warga Yogya untuk melihat parade budaya. Meski hal itu terjadi setiap tahun, tak ada rasa bosan bagi kami. Ini ada beberapa foto yang sempat saya abadikan saat parade prajurit keraton. enjoy :) 





It's about: How Do You Care Each Other



Kemarin cuaca sedang enggan berbaik hati, tidak diduga dan tiba-tiba. Yah, sifat dasarnya.
Hujan mengguyur di siang hari sekalian membawa temannya---angin---yang kekuatannya cukup untuk merontokkan daun-daun kering, menyobek terpal, menggoyang atap seng tetangga, apalagi menerbangkan rokmu.
Intinya seharian itu mendung dan berangin hingga membuat saya malas pergi-pergi keluar, sebenarnya memang tidak ada kegiatan. Untungnya hari ini matahari tidak lagi absen sehingga saya memutuskan untuk bepergian. Bepergian disini bukan seperti yang kalian 'mungkin' pikirkan seperti ke mall, nongkrong di cafe, ke bioskop, etc. Saya cuma pergi ke bank dan membeli pulsa. ironis. Jarak dari rumah ke bank dan counter pulsa tidak terlalu jauh, sepertinya tidak sampai lima kilo, makanya saya memutuskan untuk memakai sepeda-sehat dan ramah lingkungan. Singkat kata, setelah keluar dari ruang sempit tempat mengambil uang saya menuju counter pulsa langganan dan melewati tiga traffic light. Di traffic light pertama saat lampu sudah hijau, saya mengayuh sepeda di jalur yang menurut saya tidak mengganggu pengendara lain dan dengan kecepatan yang normal. Namun ada seorang lelaki, yang saat itu sedang memboncengkan pasangannya, tiba-tiba berteriak "wuuu..", pasangannya hanya melihat dan tampak cuek dengan kelakuan lelaki itu. Entah apa maksud dirinya melakukan hal tersebut. Kejadian seperti itu sebenarnya merupakan kali kedua bagi saya karena saya pernah mengalami hal serupa sebelumnya. Saat hendak menyeberang ke sisi lain badan jalan, saya sudah melihat sekeliling dan berhati-hati menyeberang. Tiba-tiba ada dua orang lelaki juga meneriakkan seruan yang sama lalu tertawa-tawa. Saya tahu mereka bermaksud mengganggu konsentrasi pengendara lainnya. Namun tidakkah mereka berpikir kalau orang yang mereka ganggu itu bisa benar-benar kaget lalu ada hal buruk yang menimpanya. Apakah mereka akan tetap tertawa-tawa dan bersenang hati bertanggungjawab? Saya yakin mereka hanya lari begitu saja. Losers
Dari kejadian yang saya alami ini, saya hanya berharap setiap orang dapat lebih sopan dan beretika dalam berkendara serta tidak egois. Jalanan bukan tempat yang pas untuk bercanda dan melakukan tindakan konyol seperti itu. Kita tidak hanya menjaga keselamatan diri sendiri tetapi juga keselamatan orang lain. Jangan sampai kepedulian terhadap orang lain semakin lama semakin menipis. How do you care each other? :)

Belajar di Becak


            Sudah menjadi kebiasaan jika Budhe berkunjung ke Jogja pasti semua keluarga berkumpul dan pergi berjalan-jalan bersama. Sayangnya malam itu sepertinya tidak ada keberuntungan yang menghinggapi kami. Setelah dari Mall Malioboro, saya dan beberapa orang keluarga saya yang lain memutuskan untuk pulang dengan menggunakan taksi. Setelah cukup lama menunggu akhirnya lewatlah taksi yang dimaksud, kamipun melambai-lambaikan tangan agar pak sopir dapat melihat kami (dan tidak keduluan orang lain). Namun taksi itu terus saja melaju tak peduli banyaknya orang yang berebut kendaraan malam itu. Ternyata taksi-taksi tersebut tidak mau berhenti karena ketatnya penjagaan dari para polisi di sepanjang Jalan Malioboro. Akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan bus Transjogja, namun lagi-lagi bus yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang. Budhe yang sudah jengkel dan lelah menunggu pun mengajak kami semua naik becak. Saya sih senang saja kalau diajak naik becak, kebetulan cuaca malam itu juga sedang cerah sehingga akan sangat mengasyikkan kalau melihat-lihat jalanan kota Jogja waktu malam dengan atap becak yang terbuka.  
            Kami memesan beberapa becak dan naik secara berpasang-pasangan. Kebetulan saya satu becak dengan Budhe. Sepanjang perjalanan bapak tukang becak mengajak kami ngobrol dengan ramah. Dengan logat dan bahasa Jawanya yang masih kental ia memulai percakapan diantara kami. Ia bercerita kalau dirinya memiliki 4 orang anak, jaler sedaya, katanya. Dari suaranya terlihat bahwa ia begitu bangga dengan keempat anaknya, ia ditinggal istrinya saat anak-anaknya masih kecil namun bapak itu tidak mau menikah lagi. Ia terus bekerja menarik becak untuk membiayai kehidupan mereka. Bapak tukang becak itu juga cerita kalau anak pertamanya bisa kuliah di universitas terkenal di Jogja (you know what I mean ;) ) dan kini sudah bekerja, anak keduanya pun juga kuliah di universitas yang sama dengan kakaknya bahkan sudah bekerja di Korea. Bapak itu bangga kalau anak-anaknya dapat hidup prihatin (tidak bermewah-mewah, sederhana) dan  mengerti kondisi orangtuanya. Ia berkata kalau biaya sekolah dan kuliah anak-anaknya itu sangat banyak, kadang sampai membuatnya kewalahan, namun mengingat anak-anaknya yang patuh dan tekun itu membuatnya semangat bekerja sehingga mereka tetap dapat bertahan sampai sekarang.
            Ada beberapa hal yang saya garis bawahi dari bapak tukang becak ini. Pertama, tarif dan servis yang baik. Sikapnya yang ramah dan tarif becak yang sesuai sudah jarang ditemukan di kota ini. Kebanyakan tukang becak menaruh harga yang tingginya selangit agar cepat mendapat keuntungan ditambah sikapnya yang sering membuat kesal. Kedua, kesetiaan dan komitmen. Ia memilih untuk fokus membesarkan anak-anaknya daripada memikirkan untuk menikah lagi ditengah trend kawin cerai dan trend istri-lebih-dari-satu yang sering kita saksikan di televisi. Ketiga, kegigihannya mengantarkan anak-anaknya untuk mendulang kesuksesan dan cara mereka survive dengan mengandalkan pekerjaan tersebut.

-Bahkan dari seorang tukang becak pun kita dapat belajar sesuatu-