Tampilkan postingan dengan label social. Tampilkan semua postingan

Love Me or Love Me Not



Dear lovely bloggy..it's my first post in August..yeaaay ;)
saya mau sedikit share tentang relationship thingy yang tiba-tiba mengganggu pikiran saya dini hari yang dingin seperti ini :o Eitts.. ini bukan sesi curhat, ehm, jadi pemeran utamanya belum tentu saya ya :p Bukan hal yang terlalu serius tetapi perlu diperhatikan agar tidak menjadi masalah serius :) 
Baik kita mulai dengan pertanyaan: 
Apakah Anda memiliki akun media sosial? Pernahkah kekasih Anda cemburu pada siapapun-teman-Anda di media sosial itu? Apakah salah untuk cemburu? Bukankah cemburu katanya tanda cinta? ah, pertanyaan terakhir memang konyol, lupakan.
Tetapi menurut saya, seseorang yang memiliki hubungan harus saling menjaga perasaan pasangannya terlebih di ranah media sosial, dimana segala sesuatu dapat menjadi hal yang sangat sensitif. Tidak ada yang salah dari rasa cemburu, hanya bagaimana kita mengontrolnya agar tidak berlebihan dan tidak membuat muak pasangan. Lagi pula tidak semua teman di media sosial dapat dikenalkan pada pasangan bukan? Entah teman sekolah, teman kuliah, teman satu gereja, atau teman kantor :) Tulisan dan bahasa yang digunakan dalam media sosial juga sering memiliki persepsi yang berbeda tiap orang yang membacanya. Makanya penting untuk menjaga kepercayaan. Selama masa menjalin hubungan pasti satu sama lain juga sudah mengenal karakter pasangannya, hal apa yang membuatnya tertawa bahagia, hal yang tidak ia suka, dll. Namun adalah salah jika Anda "bersekongkol" dengan teman agar tidak menunjukkan sesuatu-apapun itu di media sosial sehingga pasangan tidak tahu, tidak cemburu, dan tidak menimbulkan masalah atau pertengkaran. Memang hal itu bisa digunakan untuk mencari amannya saja, tetapi sadar atau tidak, Anda membuat pasangan menjadi jelek dimata teman anda. You degrading her/him. Daripada tidak jujur seperti itu, tinggal beri pilihan saja: love me or love me not. Bagi saya, muak untuk membayangkan terus-terusan hidup dalam kebohongan dan "persekongkolan" seperti itu :)


good night good morning,
@elizabeth9race J

Grebeg, The Cultural Parade.

Yogyakarta terkenal dengan kebudayaannya yang masih terjaga hingga kini, salah satunya Grebeg. Sebelum Grebeg dimulai biasanya ada iring-iringan prajurit keraton yang memakai pakaian khas lengkap, senjata, bendera-bendera, dan memainkan alat musik tradisional sambil berjalan dengan rute yang sama setiap tahunnya. Ibu selalu mengajak kami (saya dan adik) menonton parade budaya tersebut. Pagi-pagi kami sudah mengambil tempat yang pas di pinggir jalan agar dapat melihat prajurit keraton dengan jelas. Ibu bahkan sudah menyiapkan bekal yang akan dibawa karena kami tidak sempat sarapan. Tak berapa lama kemudian mulai banyak orang yang berdatangan untuk menonton juga, hal itu menunjukkan antusiasme warga Yogya untuk melihat parade budaya. Meski hal itu terjadi setiap tahun, tak ada rasa bosan bagi kami. Ini ada beberapa foto yang sempat saya abadikan saat parade prajurit keraton. enjoy :) 





It's about: How Do You Care Each Other



Kemarin cuaca sedang enggan berbaik hati, tidak diduga dan tiba-tiba. Yah, sifat dasarnya.
Hujan mengguyur di siang hari sekalian membawa temannya---angin---yang kekuatannya cukup untuk merontokkan daun-daun kering, menyobek terpal, menggoyang atap seng tetangga, apalagi menerbangkan rokmu.
Intinya seharian itu mendung dan berangin hingga membuat saya malas pergi-pergi keluar, sebenarnya memang tidak ada kegiatan. Untungnya hari ini matahari tidak lagi absen sehingga saya memutuskan untuk bepergian. Bepergian disini bukan seperti yang kalian 'mungkin' pikirkan seperti ke mall, nongkrong di cafe, ke bioskop, etc. Saya cuma pergi ke bank dan membeli pulsa. ironis. Jarak dari rumah ke bank dan counter pulsa tidak terlalu jauh, sepertinya tidak sampai lima kilo, makanya saya memutuskan untuk memakai sepeda-sehat dan ramah lingkungan. Singkat kata, setelah keluar dari ruang sempit tempat mengambil uang saya menuju counter pulsa langganan dan melewati tiga traffic light. Di traffic light pertama saat lampu sudah hijau, saya mengayuh sepeda di jalur yang menurut saya tidak mengganggu pengendara lain dan dengan kecepatan yang normal. Namun ada seorang lelaki, yang saat itu sedang memboncengkan pasangannya, tiba-tiba berteriak "wuuu..", pasangannya hanya melihat dan tampak cuek dengan kelakuan lelaki itu. Entah apa maksud dirinya melakukan hal tersebut. Kejadian seperti itu sebenarnya merupakan kali kedua bagi saya karena saya pernah mengalami hal serupa sebelumnya. Saat hendak menyeberang ke sisi lain badan jalan, saya sudah melihat sekeliling dan berhati-hati menyeberang. Tiba-tiba ada dua orang lelaki juga meneriakkan seruan yang sama lalu tertawa-tawa. Saya tahu mereka bermaksud mengganggu konsentrasi pengendara lainnya. Namun tidakkah mereka berpikir kalau orang yang mereka ganggu itu bisa benar-benar kaget lalu ada hal buruk yang menimpanya. Apakah mereka akan tetap tertawa-tawa dan bersenang hati bertanggungjawab? Saya yakin mereka hanya lari begitu saja. Losers
Dari kejadian yang saya alami ini, saya hanya berharap setiap orang dapat lebih sopan dan beretika dalam berkendara serta tidak egois. Jalanan bukan tempat yang pas untuk bercanda dan melakukan tindakan konyol seperti itu. Kita tidak hanya menjaga keselamatan diri sendiri tetapi juga keselamatan orang lain. Jangan sampai kepedulian terhadap orang lain semakin lama semakin menipis. How do you care each other? :)

Belajar di Becak


            Sudah menjadi kebiasaan jika Budhe berkunjung ke Jogja pasti semua keluarga berkumpul dan pergi berjalan-jalan bersama. Sayangnya malam itu sepertinya tidak ada keberuntungan yang menghinggapi kami. Setelah dari Mall Malioboro, saya dan beberapa orang keluarga saya yang lain memutuskan untuk pulang dengan menggunakan taksi. Setelah cukup lama menunggu akhirnya lewatlah taksi yang dimaksud, kamipun melambai-lambaikan tangan agar pak sopir dapat melihat kami (dan tidak keduluan orang lain). Namun taksi itu terus saja melaju tak peduli banyaknya orang yang berebut kendaraan malam itu. Ternyata taksi-taksi tersebut tidak mau berhenti karena ketatnya penjagaan dari para polisi di sepanjang Jalan Malioboro. Akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan bus Transjogja, namun lagi-lagi bus yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang. Budhe yang sudah jengkel dan lelah menunggu pun mengajak kami semua naik becak. Saya sih senang saja kalau diajak naik becak, kebetulan cuaca malam itu juga sedang cerah sehingga akan sangat mengasyikkan kalau melihat-lihat jalanan kota Jogja waktu malam dengan atap becak yang terbuka.  
            Kami memesan beberapa becak dan naik secara berpasang-pasangan. Kebetulan saya satu becak dengan Budhe. Sepanjang perjalanan bapak tukang becak mengajak kami ngobrol dengan ramah. Dengan logat dan bahasa Jawanya yang masih kental ia memulai percakapan diantara kami. Ia bercerita kalau dirinya memiliki 4 orang anak, jaler sedaya, katanya. Dari suaranya terlihat bahwa ia begitu bangga dengan keempat anaknya, ia ditinggal istrinya saat anak-anaknya masih kecil namun bapak itu tidak mau menikah lagi. Ia terus bekerja menarik becak untuk membiayai kehidupan mereka. Bapak tukang becak itu juga cerita kalau anak pertamanya bisa kuliah di universitas terkenal di Jogja (you know what I mean ;) ) dan kini sudah bekerja, anak keduanya pun juga kuliah di universitas yang sama dengan kakaknya bahkan sudah bekerja di Korea. Bapak itu bangga kalau anak-anaknya dapat hidup prihatin (tidak bermewah-mewah, sederhana) dan  mengerti kondisi orangtuanya. Ia berkata kalau biaya sekolah dan kuliah anak-anaknya itu sangat banyak, kadang sampai membuatnya kewalahan, namun mengingat anak-anaknya yang patuh dan tekun itu membuatnya semangat bekerja sehingga mereka tetap dapat bertahan sampai sekarang.
            Ada beberapa hal yang saya garis bawahi dari bapak tukang becak ini. Pertama, tarif dan servis yang baik. Sikapnya yang ramah dan tarif becak yang sesuai sudah jarang ditemukan di kota ini. Kebanyakan tukang becak menaruh harga yang tingginya selangit agar cepat mendapat keuntungan ditambah sikapnya yang sering membuat kesal. Kedua, kesetiaan dan komitmen. Ia memilih untuk fokus membesarkan anak-anaknya daripada memikirkan untuk menikah lagi ditengah trend kawin cerai dan trend istri-lebih-dari-satu yang sering kita saksikan di televisi. Ketiga, kegigihannya mengantarkan anak-anaknya untuk mendulang kesuksesan dan cara mereka survive dengan mengandalkan pekerjaan tersebut.

-Bahkan dari seorang tukang becak pun kita dapat belajar sesuatu-