Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Wishlist

Untuk masalah buku, belakangan ini saya bosan membaca kisah-kisah cinta ringan semacam teenlit atau metropop. Saya lebih suka membaca buku tentang detektif semenjak Robert Galbraith aka J. K. Rowling menelurkan The Cuckoo's Calling dan The Silkworm. Saya juga ingin membaca buku-buku yang bisa "menguatkan", memaknai hidup, bersyukur, dan mengingatkan saya saat berada di masa sulit. Banyak maunya memang. Setelah melihat-lihat beberapa toko buku online, saya jadi ingin membeli banyak buku. Namun masih berat di dompet. :D
Inilah beberapa book-wishlist saya:

1. Seriously I'm Kidding - Ellen Degeneres


Saya tahu Ellen DeGeneres dari tayangan The Ellen Show yang ada di Youtube sekitar tahun 2011. Semenjak itu saya menjadi penggemarnya. Ellen orang yang luar biasa. Ia berani mengakui bahwa dirinya "beda"dari orang lain. Ellen tidak terpuruk atau jatuh namun ia menggunakan dirinya untuk dapat menginspirasi orang lain. Saya juga suka mengikuti kisah cintanya bersama istrinya, Portia de Rossi. Saya baru tahu kalau ia juga menulis buku sekitar setengah tahun ini, dan sampai saat ini belum kesampaian beli bukunya. Huaaa :(

2. Very Good Lives - J. K. Rowling


Very Good Lives ini katanya pidato inspiratif J.K. Rowling. Saya sangat tahu kalau Rowling merupakan orang dengan pikiran yang luar biasa, maka dari itu saya tak sabar ingin membacanya. Cerita-cerita imajinatifnya saja sangat mengesankan, apalagi yang menginspirasi seperti ini.

 3. Building A Framework

Buku ini karya Abby Lawson, seorang wanita yang suka menulis blog. Ia menuturkan bagaimana membuat blog lebih enak dilihat, banyak dikunjungi, bagaimana menulis di blog agar menarik, dll. Sayangnya saya cari di beberapa toko buku online kok tidak ada. Jadi harus membelinya di blog Abby langsung.

Pengen bangeeeeeeet segera punya dan dibaca, still counting!

[Buku] TRAVEL YOUNG


 
Be Courageous  * Take Risks * Speak Out
Make Choices * Grow up * Enjoy Your Life

 

“Aku takut ketinggian,” tandas saya singkat. Mendengar hal itu, teman yang duduk di sebelah saya menawarkan untuk bertukar tempat, tapi saya menolak.
Bagaimana saya bisa pergi keliling dunia kalau bepergian dengan pesawat saja, membuat saya ketakutan setengah mati?
Segera, pesawat pun perlahan-lahan melewati landas pacu, sedikit menukik ke atas, dan… I swear it was the scariest moments in my life!
# # #
Menjejaki kedewasaan ibarat melakukan sebuah perjalanan. Semakin jauh melangkah, akan sering kita temukan tantangan baru. Dan melakukan perjalanan sejak dini berarti menemukan banyak pelajaran yang akan menempa diri kita menjadi sosok yang lebih dewasa.
Alanda Kariza berbagi kisah perjalanan yang mendewasakan dirinya saat ke New York, Vatikan, London, Doha, Pittsburgh, dan tempat menarik lainnya. Banyak hal yang bisa jadi pelajaran menarik, seperti keluar dari zona nyaman, berani mengambil keputusan, percaya diri, dan bisa menyikapi suatu masalah tanpa keluhan.
Baginya, traveling is about discovering yourself and also your flaws. Jadi, siapkan destinasi impianmu, tangkap setiap momen yang ada…dan bertualanglah! Temukan jawaban tentang kedewasaanmu.


Judul                            : Travel Young
Penulis                         : Alanda Kariza
Penerbit                       : GagasMedia
Desainer Sampul          : Dwi Anisa Anindhika
Tebal                           : 190 halaman
ISBN                            : 979-780-777-0
Cetakan Pertama          : 2014
Harga                           : Rp 40.000, 00
   
Melakukan perjalanan bukan hal yang asing lagi dalam hidup kita. Jauh-dekat. Lama-singkat. Dalam kota-antar kota. Antar daerah-antar provinsi. Dalam negeri-luar negeri. Sendirian-bersama pasangan-maupun beramai-ramai. Semua tentu memiliki ceritanya tersendiri. Dalam buku ini Alanda Kariza berkisah mengenai perjalanan yang ia lalui ke berbagai negara, bagaimana dirinya berusaha untuk dewasa, percaya dan bisa mengandalkan diri sendiri, serta berpikir positif. Alanda juga menyisipkan kisah anak-anak Indonesia yang sudah meraih sukses di usia muda. Bagi saya, apa yang ia tulis bukan sekedar berbicara tentang bagaimana suatu perjalanan dapat mendewasakan diri seseorang tetapi juga mengingatkan kita untuk selalu bersyukur. Bersyukur dengan apa yang kita miliki, bersyukur dengan kemampuan kita, bersyukur untuk orang-orang yang ditemui saat melakukan perjalanan, bersyukur untuk setiap waktu dan setiap hal baru yang ditemui, bersyukur untuk berbagai keindahan yang dapat dinikmati. Bagian favorit saya yaitu cerita saat Alanda menghadiri suatu pertemuan di Vatikan. Ketika itu semua orang yang hadir tiba-tiba serempak tertawa saat dirinya berpidato. Apa yang ia lakukan? Ikut tertawa! Ia tetap mencoba berpikir positif dan menghilangkan rasa cemasnya. Ia menganggap berani ikut menertawakan diri sendiri merupakan salah satu kualitas untuk menjadi dewasa. Bagian favorit saya yang lain yaitu saat Alanda bertemu pasangan kakek-nenek di Colline du Château, Nice. Kadang orang asing yang kita temui dimanapun membawa kisah dan pelajaran tersendiri untuk kita. Kelebihan lain yang saya suka di buku ini yaitu Alanda menuliskannya dengan bahasa baku yang baik namun tetap ringan dibaca.

“Find the courage to fight for your dreams”- Alanda Kariza.

[Buku] THE STORY OF DOGS




Hai! Sebagai selingan dan singkat saja, kali ini saya mau bercerita tentang salah satu buku yang paling "berkesan" bagi saya ^^ sudah sejak lama saya menjadi followers mbak @AlberthieneE. pembaca mana yang tidak tahu tentangnya? saya sendiri memfollow beliau karena beliau seorang penulis hebat dan foto-foto lucu anjing-anjingnya.
saya lupa kapan tepatnya, yang pasti saat itu setelah membaca tweet beliau saya langsung menulis cerita pendek tentang anjing.
awalnya saya tak yakin kalau tulisan saya bisa ikut dalam buku beliau, namun tak disangka saya bisa menjadi bagian buku The Story of Dogs.






Ciao!
@elizabethgrs

[Buku]: Pondok Baca Kembali ke Semarang Oleh Nh. Dini

Tahun 1980 Dini kembali ke Tanah Air.
Setelah beberapa tahun mondar-mandir antara Jakarta dan Semarang, pada tahun 1985 Dini menetap di kota asalnya, pulang ke Kampung Sekayu. Di sana dia mendirikan taman bacaan yang dinamakan Pondok Baca Nh. Dini atau disingkat PB, dilayankan kepada para pra-remaja dan remaja sekitar. Berkat bantuan teman-teman dan saudara-saudaranya, usaha nirlaba tersebut berjalan lancar. Di sela-sela mengawasi anggota PB yang membaca dan mengerjakan Latihan-Latihan Bahasa, Dini meneruskan kegiatannya menulis novel dan cerita pendek.Namun kehidupan tidak semulus yang dia harapkan. Banjir dan tanah longsor sempat nyaris mematahkan semangat hidupnya. Gangguan bencana alam tersebut memaksa Dini pindah tempat tinggal hingga 3 kali: dari Kampung Sekayu ke Griya Pandana Merdeka di Ngalian, lalu mengungsi kembali ke Sekayu, kemudian ke Perumahan Beringin Indah di Ngalian juga. Dia mampu menyandang pengalaman tersebut sebagian besar berkat bantuan Kedutaan Besar Selandia Baru dan lingkungan dekatnya, ialah saudara-saudaranya dan para anggota Rotary Club Semarang Kunthi. Dini menjadi anggota perkumpulan bergengsi itu sejak masa tinggalnya di Kampung Sekayu.Berkat kegiatannya sebagai pengelola Pondok Baca, Dini dihubungi oleh Plan International, sebuah organisasi yang mengatur perkenalan antara pasangan suami-istri di seluruh dunia dan dan anak asuh di negara-negara yang sedang berkembang. Plan International di Kupang Timur menawarkan kerja sama kepada Dini.Semua tampak nyaman, segalanya terasa seakan-akan berlangsung damai seterusnya. Namun selalu terjadi perubahan-perubahan dalam kehidupan manusia.Menjelang tahun 1998, Dini juga terkena imbas perubahan itu. Era yang disebut Reformasi melanda diri dan lingkungannya ....


Judul                     : Pondok Baca Kembali ke Semarang
Penulis                  : Nh. Dini
Penerbit                : PT Gramedia Pustaka Utama
Desain Sampul      : Mulyono
Perwajahan Isi      : Sukoco
Tebal                    : 256
ISBN                   : 978-979-22-6635-1
Cetakan Pertama  : Februari 2011
Harga                   : Rp 45.000, 00

Seperti buku Seri Cerita Kenangan lain yang sudah terlebih dahulu ditulisnya, kali ini Bu Dini menceritakan tentang kehidupannya sekembalinya dari luar negeri. Setelah pulang dari Prancis, Bu Dini memapankan dirinya untuk kembali tinggal di rumah peninggalan orangtuanya di Kampung Sekayu. Bu Dini menempati bagian belakang rumah itu yang sebelumnya telah direnovasi menurut keinginan beliau. Dari situlah juga awal mula Pondok Baca berdiri. Namun karena beberapa hal yang membuatnya tak lagi nyaman tinggal disitu, beliau memutuskan pindah dan membangun rumah di Griya Pandana Merdeka dengan membawa serta Pondok Bacanya. Bu Dini kembali merasa nyaman dan senang tinggal di rumah barunya itu, apalagi pemandangan Laut Jawa juga tersuguh langsung dari rumahnya. Berbagai kegiatan selain menulis tetap beliau jalankan, salah satunya bergabung bersama Rotary Club Semarang Kunthi dan mengisi acara-acara sebagai pembicara. Cobaan seakan belum berhenti menguntit beliau. Cuaca buruk di Semarang mengakibatkan tanah longsor dan banjir, rumah yang ditinggali Bu Dini pun menjadi salah satu korbannya. Untungnya masih banyak barang yang dapat diselamatkan, dan untuk sementara beliau tinggal kembali di Kampung Sekayu. Dengan berbagai kemurahan hati para sahabat dan relasi, Bu Dini dapat membangun rumah dan Pondok Baca lagi di tempat yang berbeda yaitu di Beringin Indah. Perjumpaannya dengan anak-anaknya, Lintang dan Padang, semakin membuat kekayaan batinnya menumpuk. Era reformasi juga berimbas pada kondisi keuangannya namun beliau tetap dapat bertahan hidup, bahkan mampu menampung beberapa mahasiswa yang kesulitan pulang ke daerah asalnya karena keganasan dan kekacauan situasi saat itu. Setiap kisah hidup beliau mempunyai makna dan pelajaran tersendiri bagi saya. Saya mengenal karya-karya Nh. Dini semenjak duduk di bangku SMP. Dari situlah saya menjadi salah satu penggemar berat beliau. Ada satu keinginan untuk bertemu langsung dengan beliau, dan semoga impian itu dapat segera terwujud ;)
Ohya, beberapa kesalahan ketik juga saya temukan, diataranya: 

Hlm. 9: Ketka aku masih tinggal… seharusnya Ketika aku masih tinggal…

Hlm. 131: Baca seri cerita kenangan: Langit dan Buni Sahabat Kami seharusnya Langit dan Bumi Sahabat Kami

Hlm. 141: …tempat anakkku tinggal.. seharusnya ...tempat anakku tinggal...

Hlm. 249: …membeli sebanyak mungkin. buah-buah lerak yang bisa dia temukan. seharusnya …membeli sebanyak mungkin buah-buah lerak yang bisa dia temukan.