Beberapa hari yang lalu saya membaca artikel di Daily Mail tentang seorang wanita bernama Laura Lynne Jackson yang mempunyai dua pekerjaan yang tidak saling berhubungan bahkan berbeda satu sama lain. Laura sehari-hari bekerja sebagai guru Bahasa Inggris, dan ia merupakan psychic medium bersertifikasi dari pemerintah di negaranya. Laura dapat berinteraksi dengan orang-orang yang sudah meninggal, ia menyebutnya "Other Side". Baru-baru ini Laura menerbitkan bukunya yang berjudul The Light Between Us:Stories From Heaven. Lessons For The Living. Buku ini mengisahkan berbagai pengalaman Laura membantu keluarga yang ditinggalkan untuk menerima pesan dari orang-orang yang mereka cintai-walau mereka sudah tiada.
Berikut deskripsi bukunya:
For readers of "Proof of Heaven," the astonishing story of a woman with an extraordinary psychic gift and a powerful message from the Other Side that can help us to live more beautifully in the here and now.
Laura Lynne Jackson is a wife, a mother, a high school English teacher and a psychic medium. Where most believe an impenetrable wall divides the world between the living and the dead, Jackson sees bright, brilliant cords of light that pass through a barrier as thin as a sheet of paper. Her gifts tested and verified by some of the most prominent scientific organizations studying paranormal phenomena, Jackson has dedicated her life to exploring our connection to the Other Side, conversing with departed loved ones, and helping people come to terms with loss. In "The Light Between Us, " she shares her remarkable journey and the lessons in love she s learned along the way.
Jackson is just a child when she first realizes she is different from her peers. She has tremendous empathy and often finds herself overcome by the emotions of those around her. She has premonitions about friends and family members that leave her feeling helpless, sad, and confused. She confides in her mother and learns that the gift runs in the family.
For twenty years Jackson leads a double life. By day, she teaches literature to Long Island high school students. At night, in private, she conducts readings that connect people with loved ones who have passed and imparts information with shocking accuracy and insight. And then one day, her two worlds become one and she comes to fully embrace her gift and her purpose.
Jackson writes with clarity and grace, using her unique perspective to address the eternal questions that vex us all: Why are we here? What happens when we die? How do we find our true path in this life? Here too are deeply affecting accounts of ordinary people reunited with their departed friends and family members true stories of forgiveness and reconciliation that transcend the barrier between life and death.
"The Light Between Us" provides guideposts for living a rich and fulfilling life. In her beautiful worldview, Laura Lynne Jackson reminds us that our relationship to those we love endures across space and time; that we are all connected and invested in one another s lives; and that we are here to give and receive love selflessly. Her story offers a new understanding of the vast reach of our consciousness and enlarges our view of the human experience.
Praise for "The Light Between Us"
A brilliant milestone marking our passage toward comprehending the deeper truths of our existence. Eben Alexander, M.D., author of"Proof of Heaven"and"The Map of Heaven"
I read "The Light Between Us" with great joy, savoring the wonderful stories and messages of hope. It is a book filled with wisdom and love, exploring the deep bonds that keep us eternally connected to our soul mates. Brian L. Weiss, M.D., author of "Many Lives, Many Masters"
Compelling, riveting, and a spiritual game-changer . . . For those suffering a terrible loss, you will find peace and comfort in her story. For those who question the afterlife, you will become a believer. Laura Schroff, author of "An Invisible Thread"
Straightforward, unassuming, and profoundly generous . . . Brave, honest, and beautiful, this book is a treasure. Mark Epstein, M.D., author of "Going to Pieces Without Falling Apart"
One of the most insightful and inspiring books about mediumship I have ever read . . . destined to become a classic. Gary E. Schwartz, author of "The Afterlife Experiments "and" The Sacred Promise""
Saya penasaran dan ingin sekali membaca buku ini, mengetahui kisah-kisah yang dialami Laura dengan pekerjaan gandanya.
Buku tersebut dapat dibeli di
opentrolley, sayangnya harganya memang belum terlalu ramah :p nabung nabuuung!
Overthinking
Upset
Argh.
I don't belong with them
and
I don't want to spend my whole life with them
Them.
Such a big mouth people.
Oh they need a big mirror, believe me.
Dahulu malam-malam tanggal 25 Juli 2003, Papa membangunkan tidurku untuk membawaku menemuimu. Saat itu aku hanya sekilas melihatmu melalui dinding kaca, berjajar pulas dengan belasan bayi lainnya. Ku jenguk Ibu sebentar, melihat perutnya yang dibalut perban putih bekas karya para dokter yang dibuat sebagai jalan keluarmu.
Sampai di rumah, Papa tak lekas berstirahat. Ia menggali tanah sebelah barat rumah kita untuk menanam ari-ari mu. Menuruti kehendak Eyang, Papa meminta buku dan pensilku untuk dimasukkan bersama di dalam lubang itu. Katanya agar kelak menjadi anak pandai. Itulah saat pertama aku jengkel padamu. Masih kuingat bahwa buku dan pensil itu berwarna hijau kesukaanku.
Sampai sekarang pun aku juga masih sering jengkel padamu. Kita selalu serupa. Sampai saat membeli baju pun kamu hanya berkata "kayak kakak". Jengkelku bukan berarti tidak suka. Aku tau itu tanda sayangmu padaku.
Saat Papa atau Ibu marah, kita selalu ada untuk membela satu sama lain. Saat Papa ingin mencium kita, bersama-sama kita berlari menjauh. Malam hari, kita tak pernah melewatkan saling membisikkan ucapan selamat tidur. Kompak.
Kebiasaan kita yang sering bertengkar pasti membuat lelah Papa dan Ibu untuk terus mengingatkan dan melerai. Padahal tanpa mereka tahu, kita tak butuh waktu lama untuk kembali berpelukan dan tidur siang bersama.
Sabtu dan Minggu pagi merupakan hari yang menyenangkan karena disitulah kita biasa mengisi TTS berdua, dengan penuh gaduh kita mencari kartu pos, dan bersepeda bersama untuk mengirimnya.
Baru saja kamu memasuki sekolah di tingkat yang lebih tinggi. Jaga dirimu. Pandailah memilih teman dan aktivitas yang baik. Akan ada saatnya, ketika Kakak dan kamu terpisah jarak, demi untuk mencapai impian. Ketahuilah, aku akan selalu merindumu, memikirkanmu. Aku akan selalu rindu pelukanmu, dan usapan tanganmu di punggungku yang mengolesiku dengan minyak. Kakakmu ini memang masuk anginan :3
Kezia, selamat ulang tahun. 12 tahun usiamu. Semoga sehat bahagia selalu, berpikir dan berkelakuan semakin baik. I love you, I'll never stop.
"Tell a lie once, and your truths become questionable."
Untuk masalah buku, belakangan ini saya bosan membaca kisah-kisah cinta ringan semacam teenlit atau metropop. Saya lebih suka membaca buku tentang detektif semenjak Robert Galbraith aka J. K. Rowling menelurkan The Cuckoo's Calling dan The Silkworm. Saya juga ingin membaca buku-buku yang bisa "menguatkan", memaknai hidup, bersyukur, dan mengingatkan saya saat berada di masa sulit. Banyak maunya memang. Setelah melihat-lihat beberapa toko buku online, saya jadi ingin membeli banyak buku. Namun masih berat di dompet. :D
Inilah beberapa book-wishlist saya:
1. Seriously I'm Kidding - Ellen Degeneres
Saya tahu Ellen DeGeneres dari tayangan The Ellen Show yang ada di Youtube sekitar tahun 2011. Semenjak itu saya menjadi penggemarnya. Ellen orang yang luar biasa. Ia berani mengakui bahwa dirinya "beda"dari orang lain. Ellen tidak terpuruk atau jatuh namun ia menggunakan dirinya untuk dapat menginspirasi orang lain. Saya juga suka mengikuti kisah cintanya bersama istrinya, Portia de Rossi. Saya baru tahu kalau ia juga menulis buku sekitar setengah tahun ini, dan sampai saat ini belum kesampaian beli bukunya. Huaaa :(
2. Very Good Lives - J. K. Rowling
Very Good Lives ini katanya pidato inspiratif J.K. Rowling. Saya sangat tahu kalau Rowling merupakan orang dengan pikiran yang luar biasa, maka dari itu saya tak sabar ingin membacanya. Cerita-cerita imajinatifnya saja sangat mengesankan, apalagi yang menginspirasi seperti ini.
3. Building A Framework
Buku ini karya Abby Lawson, seorang wanita yang suka menulis blog. Ia menuturkan bagaimana membuat blog lebih enak dilihat, banyak dikunjungi, bagaimana menulis di blog agar menarik, dll. Sayangnya saya cari di beberapa toko buku online kok tidak ada. Jadi harus membelinya di blog Abby langsung.
Pengen bangeeeeeeet segera punya dan dibaca, still counting!
Bosan menghabiskan waktu sabtu malam di rumah saja? Teman-teman sudah punya acara sendiri? Bukan berarti kita harus bersedih karena bosan dan tidak ada yang bisa dikerjakan. Ada beberapa pilihan tempat atau kegiatan yang biasanya saya lakukan kalau mengalami problem malam-minggu-mau-ngapain.
1. Bioskop
Bioskop merupakan pilihan pertama saat saya bosan di rumah saat malam minggu. Menonton film sendirian juga bukan masalah buat saya, tapi sejauh ini belum pernah sih :p Sebelum pergi ke bioskop sebaiknya kita sudah punya pilihan mau nonton apa saja agar tidak binguung dan salah pilih.
2. Mall
Pergi ke mall bukan berarti harus belanja. Jalan-jalan aja keliling mall sampai capek, terus cari makan, dan pulang deh :o
3. Kafe atau tempat makan-minum yang nyaman
Me time sendirian di kafe ditemani laptop, smartphone, atau buku bacaan juga merupakan salah satu pilihan saya. Biasanya tempat kesukaan saya itu di Angkringan Klangenan, Bukan kafe sih, karena ini mengadopsi angkringan pinggir jalan. Tempatnya di daerah Patangpuluhan Jogja. Selain tempatnya nyaman, homy, juga tersedia Wifi.
4. Warnet
Kalau benar-benar malas kemana-mana, mood buruk, saya lebih suka ke warnet. Selain meng-update film baru, bisa juga update blog, Youtube, dll. Warnet kesukaan saya ada di daerah Tamansiswa, namanya Plaza Internet Cafe.
Jadi sudah tahu kemana malam minggumu kali ini?