Puteri Indonesia DIY 2017



Rangkaian pemilihan Puteri Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta 2017 berlangsung mulai bulan November-Desember 2016 yang lalu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi pun cukup mudah seperti mengisi formulir pendaftaran resmi, foto ukuran 4R dalam beberapa posisi, dan menyertakan kemasan produk Mustika Ratu.
Setelah beberapa minggu, pihak penyelenggara menghubungi peserta melalui email untuk datang ke Kantor Kabare Yogyakarta untuk screening awal. Peserta diukur tinggi dan berat badannya kemudian masuk ke salah satu ruangan untuk diinterview menggunakan Bahasa Inggris. Saya kurang tahu apakah ada peserta yang digugurkan di tahap ini atau tidak. Setelah seminggu kemudian pihak penyelenggara menghubungi kembali melalui email sebagai pemberitahuan untuk seleksi pemilihan semifinalis (30 besar) Puteri Indonesia DIY 2017 yang dilaksanakan di Sheraton Mustika Hotel Yogyakarta. Seleksi ini dibagi dalam dua hari yaitu tanggal 19 dan 20 November 2016. Ada enam juri yang bergantian memberikan pertanyaan, peserta juga diminta menunjukkan bakatnya.

Semifinalis Puteri Indonesia DIY 2017

Peserta yang lolos menjadi semifinalis Puteri Indonesia DIY 2017 dihubungi melalui email dan diumumkan melalui akun instagram resmi @puteriindonesiadiy. Tahap selanjutnya yaitu sesi tanya jawab dan unjuk bakat di Jogja City Mall. Tidak semua peserta menampilkan bakatnya, puji Tuhan saya menjadi salah satu peserta yang dipilih maju. Saat itu saya menari Golek Sulung Dayung. Pengumuman peserta yang lolos menjadi finalis Puteri Indonesia DIY 2017 diumumkan langsung pada sore harinya.


@dimjengsleman setelah pengumuman finalis PI DIY 2017


Finalis Puteri Indonesia DIY 2017 menjalani karantina selama 3 hari. Tiap hari diisi dengan pemberian materi dan latihan opening dance untuk malam final. Pada hari terakhir karantina kami juga diajak mengunjungi sentra pengrajin perak di Yogyakarta yaitu HS Silver. Kami diberi kesempatan belajar membuat kerajinan perak:




Meski pemilihan Puteri Indonesia DIY 2017 sudah berakhir namun kami tetap menjaga kekompakan dengan rutin mengadakan pertemuan. Kami juga sedang mengusahakan membuat satu asosiasi sebagai wadah finalis Puteri Indonesia DIY dari tahun ke tahun.







Dimas Diajeng Sleman 2016



Sekitar setahun yang lalu, Ikatan Dimas Diajeng Sleman membuka pendaftaran Pemilihan Dimas Diajeng Sleman 2016. Pemilihan ini diadakan tiap dua tahun sekali. Tujuan utama pemilihan Dimas Diajeng Sleman bukan hanya menjadi duta wisata saja melainkan sebagai "paket komplit" yang tidak hanya terfokus pada pariwisata tetapi juga pada budaya, pendidikan, serta menjadi role model bagi generasi muda. Persyaratannya tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, seperti Warga Negara Indonesia (WNI) dan melampirkan KTP, sehat jasmani dan rohani, berusia 17-25 tahun, belum menikah, lulus SMA/SMK/Sederajat, berat dan tinggi badan proporsional (Dimas minimal 165cm, Diajeng minimal 160cm), berkepribadian menarik, berprestasi, dinamis, kreatif, komunikatif, menguasai bahasa asing (minimal Bahasa Inggris), belum pernah menjuarai pemilihan Duta Wisata serupa di daerah lain. Sedangkan persyaratan administrasi yang harus dipenuhi antara lain pas foto berwarna ukuran 4x6 sebanyak dua lembar, foto close up dan full body dengan background putih ukuran 4R dengan dresscode office look, fotokopi KTP dan KTM, fotokopi ijazah SMA/SMK/sederajat, fotokopi sertifikat kejuaraan bila ada, daftar riwayat hidup atau CV terbaru, dan mengisi formulir pendaftaran yang telah disediakan.

Tahap-tahap pemilihan yaitu:
1. Seleksi Tertulis
Seleksi ini bertujuan menguji pengetahuan peserta mengenai pariwisata, kebudayaan Yogyakarta, dan pengetahuan umum.

2. Seleksi Wawancara
Dari semua peserta yang mengikuti seleksi tertulis tersebut, dipilih 60 besar (30 semifinalis Dimas, 30 semifinalis Diajeng) yang harus mengikuti tes tahap selanjutnya yaitu seleksi wawancara. Terdapat beberapa pos penjurian antara lain pos kebudayaan, pos bahasa asing, pos public speaking, pos psikologi, pos pariwisata, dan pos minat bakat. Masing-masing pos diisi oleh juri-juri yang sudah pengalaman di bidangnya masing-masing. 

3. Tes Narkotika dan Obat-Obatan Terlarang oleh BNN Sleman
Hal baru dalam rangkaian seleksi Dimas Diajeng Sleman tahun 2016 yaitu tes narkotika dan obat-obatan terlarang, tujuannya agar finalis Dimas Diajeng terpilih nantinya benar-benar dapat menjadi role model generasi muda untuk tidak menggunakan narkotika dan obat-obat terlarang.

4. Sugeng Rawuh Party
Sugeng Rawuh Party kali ini diadakan di Ndoro Ajoe Resto, acara intinya adalah pengumuman 30 finalis Dimas Diajeng Sleman terpilih (15 finalis Dimas dan 15 finalis Diajeng). Setelah acara selesai, ketigapuluh finalis dipasangkan berdasar tinggi badan dan diberi pengarahan mengenai apa saja yang harus mulai disiapkan untuk rangkaian panjang proses pembekalan sampai grand final.

Pembekalan Finalis Dimas Diajeng Sleman ini memakan waktu kurang lebih satu hingga satu setengah bulan. Biasanya dilaksanakan setiap weekend agar semua peserta bisa hadir. Materi yang diberikan beragam, mulai dari pengembangan karakter, organisasi dan birokrasi di Sleman, keprotokolan, kepemimpinan dan kepemudaan, public speaking, dll. Selain itu finalis Dimas Diajeng Sleman 2016 juga diberi beberapa tugas seperti meneruskan acara tahunan Dimas Diajeng Sleman yang bernama Culturism, berfoto di objek-objek wisata Sleman, dan membuat paper. Masa-masa pembekalan ini adalah masa yang paling menguras emosi dan bikin capek karena selain kegiatan yang sudah saya sebut di atas, ada lagi satu kegiatan yang dilaksanakan hampir tiap hari, mulai dari sore sampai malam hari. Latihan opening dance! Opening dance-nya Dimas Diajeng Sleman memang terkenal unik dari tahun ke tahun. Untuk tahun ini, opening dance nya banyak gerakan-gerakan njunjung, nggendhong, atau angkat teman sendiri. Bahkan ada beberapa part yang para wanita harus bisa angkat teman wanitanya sendiri. Opening dance ini juga menjadi kenangan sendiri buat saya karena saya harus dua kali bolak-balik pesan 30 payung hitam untuk properti menari :))

Karantina Pemilihan Dimas Diajeng Sleman 2016 dilaksanakan di Hotel UNY selama 4 hari 3 malam. Hari pertama sampai ketiga diisi dengan pemberian materi, sedangkan malam harinya digunakan untuk latihan opening dance. Pada malam ketiga atau malam terakhir karantina, diadakan malam unjuk bakat sekaligus gala dinner untuk para duta wisata daerah lain yang telah hadir untuk grand final esok hari. Grand final diselenggarakan di Auditorium Universitas Sanata Dharma, sejak pagi kami sudah ada di sana untuk serangkaian gladi bersih yang dilanjutkan dengan make up, memakai sanggul, dan persiapan lainnya. Semua kegiatan Dimas Diajeng Sleman dapat diakses melalui media sosial kami: Instagram @dimjengsleman dan Facebook Dimas Diajeng Sleman. 

Copycat.



Copycat? Disgusting!

Spontaneous Trip to Mangol Kencana

Sebenarnya saya melakukan perjalanan ini sudah pada bulan Agustus 2015 yang lalu namun saya baru sempat menuliskannya sekarang.  Saat itu teman dekat saya menghubungi melalui Whatsapp. Ia mengirim foto Gardu Pandang Mangol Kencana dan berencana mengajak saya ke sana. Awalnya saya berkeras tidak mau karena mengira tempat itu jauh sedangkan hari sudah menjelang sore. Namun karena perasaan bosan di rumah dan tidak ada pekerjaan penting yang harus dilakukan, akhirnya saya memutuskan untuk mengiyakan ajakan tersebut. Kami mengejar senja.



Pemandangan dari gardu pandang




Matahari yang mulai tenggelam terlihat jelas saat cuaca cerah



Gardu Pandang Mangol Kencana berada di daerah Patuk, Gunungkidul. Sayangnya saya kurang mengerti alamat pastinya. Tempat ini tergolong masih sangat baru dan jalanannya masih berupa tanah dan melewati pekarangan-pekarangan rumah warga. Sudah ada plang penunjuk jalan sehingga kita tidak perlu kebingungan mencari-cari. Kelebihan tempat ini yaitu lahan parkirnya yang luas dan ada beberapa gubug yang dapat digunakan untuk menikmati pemandangan hamparan sawah dari ketinggian di Gardu Pandang Mangol Kencana ini. Sayangnya belum ada daya tarik lain di tempat ini selain melihat matahari terbit dan tenggelam.












Quote from Oprah Winfrey





Wishlist (2)

Beberapa hari yang lalu saya membaca artikel di Daily Mail tentang seorang wanita bernama Laura Lynne Jackson yang mempunyai dua pekerjaan yang tidak saling berhubungan bahkan berbeda satu sama lain. Laura sehari-hari bekerja sebagai guru Bahasa Inggris, dan ia merupakan psychic medium bersertifikasi dari pemerintah di negaranya. Laura dapat berinteraksi dengan orang-orang yang sudah meninggal, ia menyebutnya "Other Side". Baru-baru ini Laura menerbitkan bukunya yang berjudul The Light Between Us:Stories From Heaven. Lessons For The Living. Buku ini mengisahkan berbagai pengalaman Laura membantu keluarga yang ditinggalkan untuk menerima pesan dari orang-orang yang mereka cintai-walau mereka sudah tiada.
Berikut deskripsi bukunya:
For readers of "Proof of Heaven," the astonishing story of a woman with an extraordinary psychic gift and a powerful message from the Other Side that can help us to live more beautifully in the here and now. 
Laura Lynne Jackson is a wife, a mother, a high school English teacher and a psychic medium. Where most believe an impenetrable wall divides the world between the living and the dead, Jackson sees bright, brilliant cords of light that pass through a barrier as thin as a sheet of paper. Her gifts tested and verified by some of the most prominent scientific organizations studying paranormal phenomena, Jackson has dedicated her life to exploring our connection to the Other Side, conversing with departed loved ones, and helping people come to terms with loss. In "The Light Between Us, " she shares her remarkable journey and the lessons in love she s learned along the way. 
Jackson is just a child when she first realizes she is different from her peers. She has tremendous empathy and often finds herself overcome by the emotions of those around her. She has premonitions about friends and family members that leave her feeling helpless, sad, and confused. She confides in her mother and learns that the gift runs in the family. 
For twenty years Jackson leads a double life. By day, she teaches literature to Long Island high school students. At night, in private, she conducts readings that connect people with loved ones who have passed and imparts information with shocking accuracy and insight. And then one day, her two worlds become one and she comes to fully embrace her gift and her purpose. 
Jackson writes with clarity and grace, using her unique perspective to address the eternal questions that vex us all: Why are we here? What happens when we die? How do we find our true path in this life? Here too are deeply affecting accounts of ordinary people reunited with their departed friends and family members true stories of forgiveness and reconciliation that transcend the barrier between life and death. 
"The Light Between Us" provides guideposts for living a rich and fulfilling life. In her beautiful worldview, Laura Lynne Jackson reminds us that our relationship to those we love endures across space and time; that we are all connected and invested in one another s lives; and that we are here to give and receive love selflessly. Her story offers a new understanding of the vast reach of our consciousness and enlarges our view of the human experience. 
Praise for "The Light Between Us" 
A brilliant milestone marking our passage toward comprehending the deeper truths of our existence. Eben Alexander, M.D., author of"Proof of Heaven"and"The Map of Heaven" 
I read "The Light Between Us" with great joy, savoring the wonderful stories and messages of hope. It is a book filled with wisdom and love, exploring the deep bonds that keep us eternally connected to our soul mates. Brian L. Weiss, M.D., author of "Many Lives, Many Masters" 
Compelling, riveting, and a spiritual game-changer . . . For those suffering a terrible loss, you will find peace and comfort in her story. For those who question the afterlife, you will become a believer. Laura Schroff, author of "An Invisible Thread" 
Straightforward, unassuming, and profoundly generous . . . Brave, honest, and beautiful, this book is a treasure. Mark Epstein, M.D., author of "Going to Pieces Without Falling Apart" 
One of the most insightful and inspiring books about mediumship I have ever read . . . destined to become a classic. Gary E. Schwartz, author of "The Afterlife Experiments "and" The Sacred Promise""

Saya penasaran dan ingin sekali membaca buku ini, mengetahui kisah-kisah yang dialami Laura dengan pekerjaan gandanya. 
Buku tersebut dapat dibeli di opentrolley, sayangnya harganya memang belum terlalu ramah :p nabung nabuuung!




 

Doesn't need a title

Overthinking
Upset
Argh.
I don't belong with them
and
I don't want to spend my whole life with them
Them.
Such a big mouth people.
Oh they need a big mirror, believe me.